Selasa, 27 Januari 2015
Strategi Low Cost Hospital di era JKN
Minggu, 25 Januari 2015
MENYEIMBANGKAN beban LAYANAN dengan HEINJUNKA
Dalam pelayanan rumah sakit di era jkn saat ini sudah umum terjadi adanya ketidakseimbangan beban layanan rumah sakit, semisal layanan pasien pada pagi, siang dan malam.
Semisal dilayanan poliklinik pasien yg datang lebih banyak memilih untuk berobat di pagi hari dibandingkan siang dan malam hari.
Disisi lain dokter dan perawat serta layanan penunjang beroperasi dari pagi hingga malam.
Jika hal ini dibiarkan maka akan terjadi ketidakseimbangan beban antara kunjungan pagi yg ramai dan layanan siang dan malam yang sepi.
Dalam pelayanan, ketidakseimbangan beban diatas tidak dibenarkan sehingga harus ada pemerataan beban dalam menangani pasien baik untuk yg shift pagi, siang dan malam.
Dalam manajemen jepang ini yg disebut sebagai HEINJUNKA.
Untuk kasus diatas heinjunka dapat dilakukan terhadap pasien dimana pihak rumah sakit melakukan sosialisasi adanya layanan siang dan malam melalui berbagai cara.
Semisal dengan memasang spanduk pemberitahuan, pembagian flyer atau diberitahu oleh perawat terkait adanya layanan siang dan malam.
Sabtu, 24 Januari 2015
Masalah : GUNUNG EMAS
Era JKN bagi banyak rumah sakit mendatangkan dilema tersendiri. Susah sejak lama rumah sakit menentukan berapa tarif setiap pasien yg berobat secara tiba tiba negara membuat uu kesehatan yg mengharuskan rumah sakit mengikuti tarif yg ditentukan oleh pemerintah.
2019 adalah batas akhir kesediaan rumah sakit menerimanya. Mau tidak mau suka tidak suka karena pada tahun itu seluruh warga indonesia sudah menjadi pasien bpjs.
Hadirnya BPJS memang memaksa rumah sakit merubah model bisnis ke arah low cost strategic. Konsep ini menekankan pentingnya penurunan harga jual berbasis kepada efektivitas dan efisiensi di dalam proses internal rumah sakit.
Efektif artinya bekerja tanpa kesalahan dan efesien artinya bekerja hanya fokus kepada kepentingan pasien.
Dalam sebuah hasil riset 60 persen kegiatan rumah sakit tidak terkait dengan urusan pasien dan dalam 1 lead time pelayanan value add time terhadap pasien hanya 20 persen sisanya 80 persen pasien dipaksa menunggu.
Ini menjadi titik masuk bagi pengelola rumah sakit untuk meninjau ulang apakah proses internal sudah bekerja efektif dan efisien.
Dengan demikian era jkn yang dianggap banyak pengelola rumah sakit SEBAGAI MASALAH BESAR bagi segelintir rumah sakit lainnya SEBAGAI GUNUNG EMAS.
Era jkn adalah 1 era dimana rumah sakit tidak lagi memikirkan kedatangan pasien karena negara yg akan mengirimnya namun konsekwensinya adalah bagaimana proses internal di re design untuk bekerja secara efektif dan efisien.
Bekerja tanpa kesalahan akan mempercepat proses penyelesaian pekerjaan dan pada akhirnya akan berdampak kepada biaya yg efisien hal ini menjadi syarat awal memasuki er jkn bagi pengelola rumah sakit.
Jumat, 23 Januari 2015
aliran & antrian DI rumah sakit
contoh dari layanan publik yang sering mendapatkan sorotan dan menjadi perbincangan hangat dimedia adalah layanan bandara yang semrawut, jalanan ibu kota yang macet tidak terkecuali layanan kesehatan dirumah sakit yang selalu mendapat complain dari pasien dan keluarganya, malah kadang LSM dan WARTAWAN jadi ikut-ikutan complain (malah yang paling rame).
beberapa waktu lalu penulis di terima oleh direksi salah satu rumah sakit di wilayah tangerang untuk menjajagi kerjasama perbaikan proses layanan kesehatan kepada pasien pada unit-unit yang dianggap banyak jumlah kunjungan pasiennya, salah satu diantaranya UNIT GAWAT DARURAT.
pasca diperlakukannya BPJS kesehatan sejak awal 2014, seluruh rumah sakit pemerintah KEBANJIRAN PASIEN yang jumlahnya membuat banyak rumah sakit kewalahan melayaninya dan suasana pelayanan menjadi SEMRAWUT, salah satu tandanya adalah ANTRIAN TUNGGU yang lama bagi pasien sehingga membludak sampe ke luar ruang tunggu, ditambah lagi seringkala beberapa pasien di antar oleh banyak orang.
pada dasarnya ANTRIAN yang terjadi ada kaitannya dengan ALIRAN PELAYANAN dari rumah sakit, sehingga dari sana kita bisa melihat penyebab munculnya ANTRIAN diatas, apakah benar PENYEBAB UTAMANYA adalah karena jumlah pasien yang meningkat atau karena aliran kerja dan pendukungnya BEKERJA SANTAI.
dalam sebuah literatur, Aliran pelayanan Rumah sakit terdiri dari: Pelayanan Pasien Masuk, Diagnosa Awal, Persiapan tindakan medis, Tindakan Medis, Pelayanan Rehabilitasi dan Pelayanan pasien pulang.
untuk kasus UGD diatas, hal yang terkait langsung dengan UNIT GAWAT DARURAT adalah pada p Pelayanan Pasien Masuk, Diagnosa Awal, Persiapan tindakan medis dan Tindakan Medis karena untuk pelayanan rawat inap dilakukan di instalasi rawat inap dan pelayanan pasien pulang dilakukan setelah pasien dinyatakan boleh pulang.
literatur lain menyebutkan bahwa MEREKAYASA ALIRAN KERJA dan PERANGKAT PENDUKUNG nya akan memberikan solusi 15% dari Kesemrawutan yang terjadi, Jika menambah fasilitas akan memberikan solusi 40% dari kesemrawutan yang terjadi.
untuk solusi pertama, bisa dilakukan secara CEPAT dan solusi yang ke dua dapat dilakukan namun butuh waktu karena ada proses Pembelian, Instalasi, edukasi dan bisa jadi perlu investasi tambahan orang.
oleh karenanya untuk solusi yang cepat memberi efek perubahan kepada pasien dan keluarganya, solusi MEREKAYASA ALIRAN KERJA dan PERANGKAT PENDUKUNGNYA menjadi solusi pertama yang dilakukan.
sebagai contoh di rumah sakit swasta SUPER MAHAL di jakarta untuk pelayanan pasien masuk yang terkait dengan pelayanan administrasi pasien, diterapkan kebijakan bahwa keluarga pasien bisa membayar DP maksimal 24 jam sejak pasien masuk ke ruang UGD.
disisi persiapan tindakan medis dan tindakan medis, di rumah sakit tentara di bandung diterapkan adanya pemisahan kondisi pasien berdasarkan tindakan yang harus diambil, dan disetiap ruangan sudah standby tenaga medis yang siap bekerja secara pararel berdasarkan tahapan tindakan yang harus diambil.
yang lebih terpenting lagi dari REKAYASA ALIRAN KERJA dan PERANGKAT PENDUKUNG ini adalah kompetensi TENAGA MEDIS dan kesiapan untuk bekerja TIM di dalam mendukung pelayanan kepada pasiennya.SAMPAI pada TITIK MAKSIMAL bekerja.
ada 1 kasus di perusahaan pembuat Jok mobil di indonesia dan Jepang, untuk aliran kerja yang sama, waktu kerja yang sama, 1 orang bisa menghasilkan output kerja yang berbeda. orang indonesia bisa menghasilkan 2 jok mobil, sementara orang jepang bisa menghasilkan 9 jok mobil.
hal ini bisa jadi inspirasi bagi pengelola rumah sakit, apakah sudah maksimal tenaga medis dan perangkat pendukungnya dalam bekerja dengan kompetensi dan kolaborasi yang dilakukan, jangan hanya MEMBLUDAKNYA PASIEN dan BURUKNYA PELAYANAN hanya di jawab dengan KURANGNYA TENAGA MEDIS tanpa melakukan upaya MEREKAYASA ALIRAN KERJA dan PERANGKAT PENDUKUNGNYA.
WAKTU MENUNGGU di RUMAH SAKIT
Bank sebagai contoh yang berberak dalam layanan publik sangat care dengan 2 persoalan diatas. industri ini sangat inovatif di dalam memberikan kualitas produk dan kemudahan bertransaksi melalui fitur-fitur layanannya semisal : kantor cabang, atm, gerai atm, atm drive thrue, internet banking dan sms banking, uang elektronik (Flazz, Brizz, e-money, dll).
beberapa fitur layanan perbankan diatas malah sudah dimanfaatkan oleh beberapa industri jasa lainnya semisal: jika naik trans jakarta, KRL, belanja di Indomart, Alfamart sekarang sudah bisa menggunakan kartu debit & uang elektronik yang dikeluarkan oleh beberapa Bank.
apa yang dilakukan diatas, pada dasarnya bertujuan untuk memberikan NILAI TAMBAH kepada PELANGGAN dalam transaksi dan menghilangkan WAKTU MENGANGGUR dan ANTRIAN atau yang sering di sebut sebagai WASTE.
lamanya orang menunggu akan berdampak terhadap panjangnya antrian dalam layanan, sehingga hal ini akan berdampak kepada meningkatnya jumlah volume orang yang dilayani dalam sistem sehingga jika dibiarkan terus menerus akan berdampak kepada situasi yang TIDAK NYAMAN bagi pelayan dan yang dilayani.
kejadian yang paling ekstrem pernah kita lihat pada pada penjualan tiket final antara INDONESIA vs MALAYSIA di senayan yang berujung kepada kejadian PEMBAKARAN loket tiket karena tidak terlayaninya secara baik penonton yang ingin menonton pertandingan. Penyebabnya adalah penjualan tiket dilakukan sendiri oleh pengurus PSSI tanpa melibatkan pihak lain yang sudah berpengalaman dalam penjualan tiket untuk penonton dengan jumlah puluhan ribu (semisal konser metalicca dan slank) ditempat yang sama.
dalam prakteknya WASTE (waktu menganggur dan antrian) bisa di hilangkan dengan metode LINE BALANCING.
Line Balancing adalah satu metode yang bertujuan untuk MENYEIMBANGKAN KERJA SISTEM. orang yang dilayani jangan dibiarkan BERLAMA-LAMA berada dalam sistem dan diberi kemudahan akses untuk cepat keluar dari sistem.
faktor-faktor yang menyebabkan ketidakseimbangan sistem dalam layanan publik terkait dengan SDM (Kompetensi & jumlah orang), Peralatan (keandalan), Alur Pelayanan dalam sistem, Informasi petunjuk arah, dll.
dalam prakteknya banyak perusahaan melakukan 2 pendekatan dalam LINE BALANCING: jangka pendek dan jangka panjang. jangka pendek dilakukan dengan merekayasa sistem yang ada baik dari sisi aliran pelayanan, jam pelayanan, akses pelayanan. cara ini diyakini dapat BERKONTRIBUSI sebesar 15% meningkatkan volume pelayanan.
untuk jangka panjang dilakukan dengan INVESTASI dari pembangunan fisik, penambahan SDM, penambahan peralatan, dll. dari beberapa literatur cara ini dapat berkontribusi sebesar 40% meningkatkan volume pelayanan. namun cara yang kedua ini dilakukan tergantung dari kesiapan manajemen perusahaan di dalam pendanaan investasi dan dapat memakan waktu.
next process IS our costumer
Dalam bisnis, industri keuangan paling kasat mata memanjakan pelanggannya dalam bertransaksi. Sebut saja puluhan ribu kantor cabang dibangun, mesin atm dimana mana, atm drive thrue, sms banking, internet banking, layanan prioritas dan yg terbaru uang elektronik.
Semua dilakukan oleh dunia perbankan hanya untuk 1 alasan: DENGAN KEMUDAHAN semua di giring menjadi LOYAL CUSTOMER.
Perusahaan dengan reputasi baik menggunakan istilah customer tidak hanya untuk pengguna produk perusahaan saja, tapi diinternal perusahaan dimana satu sama lain unit saling berhubungan dan saling kebergantungan dalam menciptakan produk istilah customer digunakan.
Next process is our customer adalah mantra yang saat ini banyak di dengungkan oleh banyak eksekutif perusahaan kepada tim kerjanya.
\Yang dimaksud adalah jika dalam menciptakan sebuah produk harus melalui proses pembelian bahan baku, produksi, pemasaran dan pelayanan maka bagian produksi merupakan customer dari bagian pembelian bahan baku. Bagian pemasaran menjadi customer bagian produksi dst nya.
Toyota manufacturing secara internal mengwmbangkan konsep NEXT PROCESS is OUR CUSTOMER dengan menerapkan sistem JIDOKA yang artinya JANGAN MENERIMA PRODUK CACAT, JANGAN MEMBUAT PRODUK CACAT dan JANGAN MENERUSKAN PRODUK YANG CACAT.
next, Bagaimana dengan perusahaan anda?
WAKTU LAYANAN di RUMAH SAKIT
Waktu menjadi sensitif dalam pelayanan karena pasien mempunyai kecenderungan untuk memilih layanan yang lebih cepat dibandingkan yang lambat.
Dari sisi pemberi layanan, seringkali hal ini diabaikan apalagi di banyak rumah sakit pemerintah. Pasien dibiarkan nunggu lama utk hanya menikmati 10 menit pelayanan yang diberikan.
Dalam literatur waktu pelayanan dikenal beberapa istilah waktu. Yaitu: Lead time, cycle time, value add time & not value add time.
Leadtime adalah waktu yg dibutuhkan oleh 1 pasien untuk melalui rangkaian pelayanan yg di butuhkan.
Semisal 1 pasien membutuhkan waktu 1 jam untuk berobat di rumah sakit melalui proses layanan registrasi, proses pemeriksaan dan pemberian obat di rumah sakit dan pembayaran di kasir.
Cycle time adalah waktu yang dibutuhkan oleh 1 pasien saat melakukan proses registrasi dari cerita diatas.
Value add time adalah waktu sesungguhnya saat pasien menerima layanan registrasi diatas.
Non value add time adalah waktu menunggu saat pasien akan melakukan registrasi karena harus mengantri.
Jadi Leadtime = (cycle time registrasi) + (cycletime pemeriksaan) + (cycle time pemberian obat) + ( cycle time pelayanan kasir).
Dimana cycle time = value add time + non value add time.
Dari banyak kasus pelayanan, pasien yang berkunjung ke sebuah rumah sakit khususnya yang berkunjung ke poliklinik, ketika menempuh waktu 1 jam pelayanan poliklinik 80% waktunya dilakukan untuk melalui non value add time, semisal HARUS MENUNGGU LAMA dalam ANTRIAN.
Non value add time tidak bisa dihilangkan namun bisa diperkecil melalui rekayasa aliran proses layanan.
Dirumah sakit misalnya pasien diarahkan untuk mendaftar online untuk hari yg ditentukan sendiri. Dgn demikian yang bersangkutan bisa mendapatkan nomor antrian yg lebih kecil.
Disisi rumah sakit utk mengantisipasi antrian panjang, polikliniknya dibuka untuk layanan pagi. Siang dan malam.
Beberapa rumah sakit sekarang lebih agresif dengan membuat layanan home healthcare dimana pasien tinggal menelpon dan pihak rumah sakit yg akan berkunjung ke rumah untuk melakukan layanan medis.